Breaking News

Safonov Justru Jadi Pembawa Hoki PSG Juara Tanpa Aksi Tepis Bola Spektakuler

(Teks foto: Matvey Safonov, kiper PSG yang menjadi sosok keberuntungan bagi Le Parisien meraih trofi Liga Champions kedua. Foto: Instagram/@motya_39)

BUDAPEST ||  Di tengah pesta besar Paris Saint-Germain usai mempertahankan trofi Liga Champions, satu nama ikut mencuri perhatian meski nyaris tanpa aksi heroik di bawah mistar, dialah Matvey Safonov. 

Kiper asal Rusia itu tidak membuat penyelamatan spektakuler di babak adu penalti final kontra Arsenal di Puskás Aréna, Budapest, Minggu (31/5/2026) dini hari WIB. Bahkan, ia tidak berhasil menepis satu pun tembakan lawan. Namun ironisnya, justru Safonov tetap berdiri sebagai sosok keberuntungan di balik gelar kedua beruntun PSG di Eropa.

Final yang berakhir 1-1 selama 120 menit itu berubah menjadi pertarungan saraf di titik putih. Arsenal dan PSG saling bergantian menjaga asa. Setiap tendangan terasa seperti hidup dan mati, sementara ribuan pasang mata di stadion menahan napas. Pada momen seperti itu, biasanya seorang penjaga gawang menjadi pahlawan lewat penyelamatan gemilang. Tetapi malam di Budapest berjalan dengan cerita berbeda.

Safonov tidak benar-benar “menangkap” kemenangan itu dengan tangannya. Ia justru seperti menyaksikan keberuntungan datang menghampiri.

Tembakan pertama yang menyelamatkan PSG datang dari Eberechi Eze. Gelandang Arsenal itu gagal mengarahkan bola ke sasaran, membuat peluang The Gunners langsung terganggu. Safonov bergerak ke arah bola, tetapi si kulit bundar lebih dulu melenceng dari target. Ketegangan makin terasa karena Arsenal sebenarnya sempat punya kesempatan menjaga momentum. 

Drama mencapai puncaknya pada penalti terakhir Arsenal. Gabriel Magalhães maju dengan beban besar di pundak: mencetak gol atau mengakhiri mimpi klub London Utara. Namun tendangannya justru melambung tinggi di atas mistar gawang. Safonov kembali tidak perlu melakukan penyelamatan apa pun. Ia hanya berdiri, menoleh ke arah bola, lalu seketika berubah menjadi bagian dari perayaan besar PSG setelah kegagalan itu memastikan kemenangan 4-3 di babak adu penalti. 

Pemandangan itu terasa unik. Di laga sebesar final Liga Champions, seorang penjaga gawang bisa saja menjadi figur sentral tanpa mencatat satu penyelamatan penalti. Safonov memang tidak tampil seperti Gianluigi Donnarumma pada musim-musim sebelumnya yang kerap mencuri sorotan lewat refleks luar biasa. Tetapi sepak bola, terutama adu penalti, kadang bergerak dengan logikanya sendiri.

Sepanjang pertandingan, Safonov sebenarnya sempat kebobolan lebih dulu lewat sepakan Kai Havertz pada menit keenam. Namun setelah itu ia tampil cukup tenang dalam mengorganisasi lini belakang dan menjaga konsentrasi di tengah tekanan Arsenal. PSG kemudian bangkit lewat penalti Ousmane Dembélé sebelum laga berujung ke extra time dan adu penalti. 
Kapten PSG, Marquinhos, menyebut keberhasilan mempertahankan gelar terasa jauh lebih berat dibanding musim sebelumnya. Ia mengungkap pesan Luis Enrique sejak awal musim menjadi bahan bakar utama tim.

“Ini luar biasa, juara dua kali beruntun. Sejak hari pertama musim ini pelatih mengatakan bahwa menang itu sulit, dan menang dua kali jauh lebih sulit. Jadi kami harus kembali bekerja lebih keras,” ujar Marquinhos usai pertandingan.

Sementara Luis Enrique menilai kemenangan ini terasa lebih spesial karena Arsenal memaksa PSG bertarung hingga titik akhir.

“Ini bahkan lebih spesial karena sebelum pertandingan kami tahu betapa sulitnya laga ini. Saya pikir kami pantas mendapatkannya melihat perjalanan sepanjang musim, meski final berjalan sangat ketat,” kata Enrique.

Bagi Safonov sendiri, malam di Budapest mungkin akan dikenang dengan cara yang tidak biasa. Tidak ada aksi terbang menepis bola ke pojok gawang. Tidak ada selebrasi penyelamatan heroik. Namun ketika dua peluang Arsenal justru melenceng di saat paling menentukan, keberuntungan seakan memilih berdiri di sisinya.
Sumber: The Sun, Al Jazeera, Sky Sports, Deccan Chronicle

© Copyright 2024 - LPC-ONLINE.COM