Breaking News

Gaethje Akhiri Rekor Sempurna Topuria di UFC dengan Kemenangan TKO

gaethje topuria
Teks foto: Kondisi Ilia Topuria babak belur usai menghadapi Justin Gaethje, (Foto: uncrowned.com) 


WASHINGTON DC || Tidak banyak yang menjagokan Justin Gaethje saat memasuki oktagon di UFC Freedom 250. Di hadapannya berdiri Ilia Topuria, juara kelas ringan yang belum pernah terkalahkan, pemegang rekor 17 kemenangan beruntun, sekaligus salah satu petarung terbaik lintas divisi di UFC saat ini.

Namun, Minggu (14/6/2026) malam waktu setempat atau Senin (15/6/2026) WIB, semua prediksi runtuh di atas panggung terbesar yang pernah disiapkan UFC. Dalam laga utama yang digelar di halaman selatan Gedung Putih, Gaethje menghasilkan salah satu kejutan terbesar dalam sejarah organisasi. The Highlight (sorotan) julukan,  menghentikan Topuria melalui TKO setelah tim petarung Spanyol itu memutuskan menghentikan pertarungan usai ronde keempat. Kemenangan tersebut mengantarkan Gaethje menjadi juara dunia kelas ringan UFC.

Pertarungan ini sejak awal dipromosikan sebagai duel dua generasi. Topuria datang sebagai bintang baru UFC yang tengah berada di puncak kariernya. Sementara Gaethje, yang telah berkali-kali gagal dalam perebutan gelar utama, memasuki laga dengan status underdog dan dianggap menghadapi tantangan terberat dalam kariernya. 

Ronde pertama berlangsung sesuai perkiraan banyak pengamat. Topuria tampil tajam dan percaya diri. Ia memanfaatkan kecepatan tangan serta kombinasi pukulan pendek yang selama ini menjadi ciri khasnya. Beberapa kali serangan petarung berjuluk El Matador itu berhasil menembus pertahanan Gaethje dan membuat juara interim tersebut harus bekerja keras bertahan.

Tekanan berlanjut pada ronde kedua. Topuria terlihat lebih aktif dalam pertukaran pukulan dan sempat membuat Gaethje berada dalam situasi sulit. Pada fase ini, banyak yang mengira laga akan berjalan sesuai skenario dan sang juara hanya tinggal menunggu waktu untuk menyelesaikan pertarungan.

Namun Gaethje bukan petarung yang mudah menyerah. Memasuki ronde ketiga, petarung asal Amerika Serikat itu mulai menemukan ritmenya. Ia meningkatkan volume serangan dan mulai memanfaatkan jangkauan pukulannya. Sebuah tangan kanan keras mengubah arah pertarungan secara drastis. Topuria yang sebelumnya tampil dominan mulai kehilangan kenyamanan. Wajahnya perlahan membengkak akibat rentetan jab dan kombinasi pukulan yang terus dilancarkan Gaethje.

Dari titik itulah momentum berubah sepenuhnya. Gaethje tampil seperti petarung yang sadar bahwa kesempatan merebut gelar mungkin tidak akan datang dua kali. Ia terus maju tanpa memberi ruang bernapas kepada lawannya. Setiap kali Topuria mencoba membalas, Gaethje menjawab dengan tekanan yang lebih besar. Serangan demi serangan membuat wajah sang juara semakin rusak dan penglihatannya mulai terganggu. 

Dokter pertandingan bahkan sempat memeriksa kondisi Topuria menjelang ronde keempat karena pembengkakan parah di area mata. Meski diizinkan melanjutkan laga, kondisinya jelas tidak lagi sama seperti saat ronde-ronde awal. 

Pada ronde keempat, Gaethje semakin mendominasi. Ia memadukan pukulan lurus, hook, dan serangan lutut yang terus menguras stamina lawannya. Topuria tetap menunjukkan keberanian luar biasa dengan terus bertarung, tetapi kerusakan yang diterimanya semakin sulit ditutupi. Sebuah serangan lutut keras ke area tubuh menjelang akhir ronde menjadi salah satu momen paling menentukan dalam pertarungan tersebut.

Saat ronde keempat berakhir, sudut Topuria akhirnya mengambil keputusan penting. Demi menghindari risiko cedera yang lebih serius, mereka menghentikan pertandingan sebelum ronde kelima dimulai. Wasit kemudian menetapkan Gaethje sebagai pemenang melalui TKO akibat penghentian dari sudut petarung.

Kemenangan ini menjadi momen puncak dalam perjalanan panjang karier Gaethje. Setelah bertahun-tahun dikenal sebagai salah satu petarung paling menghibur namun kerap gagal di laga perebutan sabuk utama, ia akhirnya berhasil mengangkat gelar juara dunia UFC yang selama ini dikejarnya.

Sebaliknya, malam itu menjadi akhir dari rekor sempurna Topuria. Petarung yang sebelumnya tak terkalahkan tersebut harus menerima kekalahan pertama dalam karier profesionalnya. Setelah pertarungan berakhir, ia bahkan dilaporkan langsung dibawa ke rumah sakit untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut akibat kerusakan pada area wajah dan mata. 

Lebih dari sekadar perebutan gelar, duel ini akan dikenang sebagai salah satu pertarungan paling dramatis dalam sejarah kelas ringan UFC. Topuria menunjukkan kualitas seorang juara sejati selama dua ronde pertama, tetapi Gaethje memperlihatkan sesuatu yang lebih besar: ketahanan, keberanian, dan kemampuan bangkit saat berada dalam tekanan.

Sumber: Reuters, MMA Mania, Straits Time, MMA FIghting

© Copyright 2024 - LPC-ONLINE.COM