VANCOUVER || Harapan Omar Abdulkadir Artan untuk mencatat sejarah di Piala Dunia 2026 mendadak berubah menjadi kekecewaan. Wasit asal Somalia yang dinobatkan sebagai Wasit Terbaik Afrika 2025 itu gagal memasuki Amerika Serikat setelah ditahan otoritas imigrasi setempat saat tiba di Bandara Internasional Miami dari Istanbul.
Padahal, Artan telah ditunjuk FIFA sebagai salah satu perangkat pertandingan Piala Dunia 2026. Penunjukan tersebut membuatnya berpeluang menjadi orang Somalia pertama yang memimpin pertandingan di panggung sepak bola terbesar dunia.
Namun perjalanan bersejarah itu terhenti sebelum benar-benar dimulai. Otoritas Bea Cukai dan Perlindungan Perbatasan Amerika Serikat (CBP) menyatakan penolakan dilakukan setelah pemeriksaan lanjutan yang memunculkan apa yang mereka sebut sebagai "vetting concerns" atau persoalan dalam proses verifikasi keamanan.
Belakangan, seorang pejabat pemerintahan Presiden Donald Trump menyebut ada informasi yang menghubungkan Artan dengan individu yang dicurigai memiliki kaitan dengan kelompok teroris. Artan membantah tuduhan tersebut dan hingga kini tidak ada bukti yang dipublikasikan kepada publik untuk mendukung klaim tersebut.
Kasus ini segera memicu perhatian luas karena terjadi di tengah kebijakan pembatasan perjalanan yang diberlakukan pemerintahan Trump terhadap sejumlah negara, termasuk Somalia. Sejumlah pihak mempertanyakan apakah latar belakang kewarganegaraan Artan turut memengaruhi keputusan tersebut. Namun hingga kini tidak ada bukti resmi yang menunjukkan bahwa penolakan itu semata-mata didasarkan pada statusnya sebagai warga Somalia.
Situasi tersebut semakin menyakitkan bagi Artan karena seluruh wasit yang bertugas di Piala Dunia diwajibkan mengikuti pelatihan dan pemusatan FIFA yang berpusat di Miami. Tanpa izin masuk ke Amerika Serikat, peluangnya untuk terlibat dalam turnamen praktis tertutup, termasuk untuk pertandingan yang digelar di Kanada maupun Meksiko.
Meski demikian, gelombang dukungan datang dari Kanada. Perdana Menteri Provinsi British Columbia, David Eby, secara terbuka meminta agar FIFA tetap memberi kesempatan kepada Artan untuk memimpin pertandingan yang berlangsung di Vancouver, salah satu kota tuan rumah Piala Dunia 2026.
Melalui akun X, Eby menyampaikan apresiasi terhadap perjalanan hidup dan pencapaian Artan yang berhasil menembus level tertinggi dunia meski berasal dari negara yang selama bertahun-tahun dilanda konflik.
"Tuan Artan akan disambut dan dihormati di British Columbia atas segala rintangan yang telah berhasil ia lalui hingga mencapai posisinya saat ini. Mari beri dia kesempatan memimpin pertandingan di Vancouver," tulis Eby.
Pernyataan itu langsung mendapat perhatian luas. Banyak pihak melihatnya sebagai bentuk dukungan moral terhadap Artan yang tengah menghadapi masa sulit dalam kariernya.
Sementara itu, Artan memilih merespons situasi tersebut dengan tenang. Setelah kembali ke Mogadishu, ia disambut ribuan warga Somalia yang menganggapnya tetap sebagai kebanggaan nasional meski gagal tampil di Piala Dunia.
"Meski situasinya seperti ini, saya tetap positif dan fokus pada tantangan berikutnya dalam karier perwasitan saya," kata Artan.
Bagi Somalia, kisah ini bukan sekadar tentang seorang wasit yang gagal bertugas di Piala Dunia. Ini adalah cerita tentang mimpi besar yang terhenti di gerbang imigrasi, ketika seorang putra bangsa yang telah mencapai puncak profesinya harus melihat kesempatan bersejarah itu menghilang sebelum peluit pertama dibunyikan.
Sumber: Sumber: ITVX, Reuters, winnipegfreepress.com, sitkamedia.ca

Social Header