NYON || Ketegangan antara UEFA dan FIFA kembali memanas setelah badan sepak bola Eropa itu secara terbuka menolak proposal terbaru FIFA terkait pembentukan perusahaan komersial baru yang akan mengelola hak komersial Piala Dunia dan sejumlah turnamen internasional.
UEFA menilai langkah FIFA tersebut dilakukan tanpa konsultasi yang memadai dengan konfederasi maupun para pemangku kepentingan sepak bola dunia. Organisasi yang dipimpin Aleksander ÄŒeferin itu juga menegaskan bahwa proposal tersebut berpotensi mengubah fondasi tata kelola sepak bola global.
FIFA Usulkan Perusahaan Komersial Baru
FIFA sebelumnya mengumumkan rencana membentuk anak perusahaan komersial yang akan mengelola hak siar, sponsor, penjualan tiket, hingga aset komersial Piala Dunia. Dalam skema tersebut, sekitar 20 persen saham perusahaan baru akan ditawarkan kepada investor swasta dengan valuasi mencapai 20 miliar dolar AS.
FIFA menyebut langkah ini bertujuan meningkatkan pendapatan agar lebih banyak dana dapat didistribusikan kepada asosiasi anggota di seluruh dunia. Bahkan, setiap federasi nasional disebut berpotensi menerima pembayaran hingga 40 juta dolar AS apabila proposal tersebut mendapat persetujuan.
UEFA Tegas Menolak
UEFA menjadi pihak yang paling vokal menentang rencana tersebut. Menurut konfederasi sepak bola Eropa itu, proposal FIFA melampaui batas yang seharusnya dijaga oleh lembaga pengelola sepak bola.
"Ini telah melewati batas yang tidak seharusnya dilanggar oleh institusi yang mengatur sepak bola," demikian pernyataan resmi UEFA, yang diunggah belum lama ini.
"Jiwa dan tata kelola sepak bola bukanlah aset yang bisa diperjualbelikan, terlebih tanpa transparansi mengenai siapa yang memperoleh keuntungan finansial. Tidak seorang pun memiliki sepak bola. FIFA tidak berhak menjualnya," demikian keterangan lanjutan.
Pernyataan tersebut menjadi salah satu kritik paling keras yang pernah dilontarkan UEFA terhadap kebijakan FIFA dalam beberapa tahun terakhir.
Selain menolak substansi proposal, UEFA mempertanyakan proses pengambilan keputusan FIFA yang dinilai minim konsultasi.
Menurut UEFA, organisasi sebesar FIFA seharusnya lebih dahulu berdiskusi dengan konfederasi benua, liga, klub, pemain, hingga asosiasi nasional sebelum mengambil keputusan strategis yang akan memengaruhi masa depan sepak bola dunia.
UEFA juga mengkritik tenggat waktu yang dianggap terlalu singkat bagi asosiasi anggota untuk mempelajari proposal tersebut secara menyeluruh.
AFC Ikut Melontarkan Kritik
Penolakan terhadap FIFA tidak hanya datang dari Eropa. Presiden Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC), Sheikh Salman bin Ebrahim Al Khalifa, juga mengkritik keras kurangnya komunikasi FIFA.
Dalam surat kepada 47 federasi anggota AFC, ia menyebut proses yang ditempuh FIFA sebagai sesuatu yang "sepenuhnya tidak dapat diterima".
"Kurangnya konsultasi mengenai proposal penting seperti ini sama sekali tidak dapat diterima," tegas Sheikh Salman.
Ia juga meminta seluruh anggota AFC tidak terburu-buru memberikan persetujuan sebelum dilakukan pembahasan yang lebih transparan bersama FIFA.
Ancaman Boikot Mulai Mengemuka
Laporan sejumlah media Eropa menyebut UEFA tengah menggelar pembahasan darurat bersama federasi-federasi anggotanya untuk menentukan langkah selanjutnya.
Salah satu opsi yang disebut mulai dibicarakan adalah kemungkinan memboikot sejumlah agenda FIFA apabila organisasi tersebut tetap menjalankan proposal tanpa melibatkan para pemangku kepentingan utama. Meski demikian, hingga kini belum ada keputusan resmi mengenai langkah tersebut.
Polemik Diperkirakan Berlanjut
Perselisihan terbaru ini memperlihatkan semakin tajamnya perbedaan pandangan antara FIFA dan UEFA mengenai arah pengelolaan sepak bola internasional.
Di satu sisi, FIFA menilai model investasi swasta dapat meningkatkan pemasukan dan memperluas distribusi dana kepada seluruh anggotanya. Di sisi lain, UEFA menilai sepak bola harus tetap dikelola dengan prinsip transparansi, akuntabilitas, serta melalui proses konsultasi yang melibatkan seluruh pemangku kepentingan.
Sumber: Reuters, ANSA.it, The Guardian
Social Header