Breaking News

Kalah 0-1 dari Kanada, Hugo Broos Akui Hal yang Selama Ini Diabaikan Afrika Selatan

afrika selatan kanada
Teks foto: Pemain timnas Afrika Selatan (jersey kuning-hijau) berjibaku mengamankan pertahanan dari pemain Kanada. (Foto: Instagram/bafanabafanaofficial)


LOS ANGELES || Dua menit tambahan. Hanya dua menit. Itu yang memisahkan Afrika Selatan antara lolos ke babak 16 besar dan pulang lebih awal. Tapi sepak bola memang kejam,  dan malam itu (MInggu 28/6/2026) di Stadion SoFi, Los Angeles atau Senin (29/6/2026) dini hari WIB, Bafana Bafana harus merasakan betapa kejamnya permainan ini.

Gelandang Kanada Stephen Eustaquio menjadi algojo mematahkan hati jutaan pendukung Afrika Selatan. Di menit ke-90+2, ia mengontrol bola dengan dada setelah sapuan pemain bertahan Afrika Selatan, lalu melepaskan tendangan voli keras yang bersarang mulus ke sudut bawah gawang. Kiper Ronwen Williams tak berkutik. Skor 1-0 untuk Kanada. Pertandingan selesai. Afrika Selatan, resmi menjadi tim pertama yang tersingkir dari babak 32 besar Piala Dunia 2026.

Di ruang konferensi pers, Hugo Broos, pelatih AFrika Selatan, duduk dengan wajah yang menggambarkan campuran lelah, kecewa, dan sesuatu yang terasa seperti penerimaan. Pelatih asal Belgia berusia 74 tahun itu tidak melempar alasan murahan. Ia langsung ke inti persoalan dan caranya bicara terasa lebih jujur dari biasanya.

"Saya pikir kami harus jujur bahwa hari ini kami kalah karena tim kami kekurangan tenaga dan kecepatan. Bila dibandingkan dengan lawan, kami kalah dalam banyak duel, dan kecepatan tim kami, bukan hanya kecepatan berlari, tetapi juga kecepatan dalam mengeksekusi permainan, tidak berada di level yang sama," kata Broos blak-blakan.

Ia tak berhenti di situ, lambatnya mengambil keputusan menambah daftar kelemahan bagi timnya. 

"Anda bisa melihat seberapa cepat Kanada bermain, termasuk saat membangun serangan. Sementara kami terkadang membutuhkan waktu terlalu lama untuk mengambil keputusan," ujarnya, lalu menyebut Kanada tampil lebih baik sepanjang 90 menit.

Yang paling menohok justru pernyataan berikutnya. Broos membuka luka lama yang sudah lama ia rasakan, kekurangan yang sudah sering ia suarakan tapi tak pernah benar-benar didengar:

"Hal-hal seperti ini harus kami perbaiki. Saya sudah sering mengatakan di Afrika Selatan, tetapi tidak ada yang percaya kepada saya. Sepak bola modern bukan hanya soal teknik, melainkan juga tenaga dan kecepatan. Bila Anda tidak memiliki itu saat menghadapi tim yang memilikinya, seperti Kanada, maka pertandingan akan menjadi sangat sulit," ungkapnya.

Broos bahkan mengaku sudah membaca peta kekuatan Kanada jauh sebelum peluit pertama berbunyi.

"Itu adalah pertandingan yang sulit, tetapi saya sudah tahu sebelumnya karena saya telah menganalisis lawan. Mereka memiliki dua ciri penting: kekuatan dan kecepatan. Kami berharap kami memiliki jawaban untuk itu, tetapi kenyataannya tidak selalu demikian," katanya.

Untuk sepakbola yang lebih baik, menurutnya Afrika Selatan melalui federasinya harus segera melakukan pembenahan.

"Anda melihat situasi dalam pertandingan di mana kami tidak bisa mengimbangi dan dalam duel satu lawan satu, kami kalah, kadang-kadang atau bahkan hampir setiap saat. Kami harus meningkatkan kekuatan dan kecepatan di Afrika Selatan," ucap pria 74 tahun itu.

Tapi Broos bukan tipe pelatih yang hanya datang untuk meratap. Di tengah kecewa yang paling dalam sekalipun, ia masih bisa melihat gambaran yang lebih besar, sebuah perjalanan yang, jika diukur dari mana Afrika Selatan memulainya, sesungguhnya luar biasa.

Broos menilai Afrika Selatan telah melampaui ekspektasi dengan berhasil lolos ke fase gugur untuk pertama kalinya sejak kembali tampil di Piala Dunia setelah penantian selama 24 tahun.

"Kalau melihat perjalanan kami secara keseluruhan, saya pikir kami harus sangat puas. Tentu kami kecewa karena ingin menang, tetapi apa yang kami capai sudah sangat baik. Saya sangat senang dan sangat bangga kepada tim ini," ucapnya.

Afrika Selatan memulai Piala Dunia 2026 dengan kekalahan 0-2 dari Meksiko, sebelum langsung bangkit dengan hasil imbang 1-1 melawan Republik Ceko dan kemenangan 1-0 atas Korea Selatan. Empat poin yang cukup untuk membawa mereka finis di posisi kedua Grup A dan untuk pertama kalinya sejak Piala Dunia 2010, Bafana Bafana berdiri di babak gugur sebuah turnamen akbar.

Di usianya yang senja, Broos mengaku belum mengambil keputusan soal masa depannya bersama timnas Afrika Selatan. Namun satu hal ia pastikan, bahwa edisi 2026 merupakan piala dunia terakhir dalam kariernya 

"Tidak bijak mengambil keputusan saat sedang kecewa. Saya akan mempertimbangkan langkah selanjutnya dalam beberapa hari ke depan. Yang pasti, ini adalah Piala Dunia terakhir saya," kata Broos, dikutip dari Reuters.

Sumber: JPNN, Tempo, Media Indonesia

© Copyright 2024 - LPC-ONLINE.COM