![]() |
| Ilustrasi cuaca panas (foto: ist) |
Kuala Lumpur – Pemerintah Malaysia mulai meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi gelombang panas ekstrem yang diperkirakan terjadi akibat fenomena Super El Nino. Departemen Meteorologi Malaysia (MetMalaysia) memproyeksikan suhu udara maksimum di negara tersebut berpotensi melampaui rekor tertinggi yang pernah tercatat hampir tiga dekade lalu.
Direktur Jenderal Departemen Meteorologi Malaysia, Mohd Hisham Mohd Anip, mengatakan fenomena El Nino diperkirakan mencapai puncaknya pada periode Maret hingga Mei 2027. Pada masa tersebut, suhu udara di sejumlah wilayah Malaysia diprediksi meningkat secara signifikan.
“Berdasarkan analisis dan data yang kami miliki, suhu maksimum berpotensi melebihi rekor sebelumnya yang mencapai 40,1 derajat Celsius,” ujar Mohd Hisham.
Rekor suhu tertinggi Malaysia tercatat pada tahun 1998 di Chuping, negara bagian Perlis, saat gelombang panas yang dipicu El Nino melanda kawasan Asia Tenggara.
Menurut Mohd Hisham, tren peningkatan suhu di Malaysia sebenarnya telah terlihat sejak dekade 1980-an. Ia menjelaskan bahwa setiap kemunculan Super El Nino umumnya berkaitan dengan lonjakan suhu yang lebih tinggi dibandingkan kondisi normal.
“Data historis menunjukkan adanya pola kenaikan suhu yang cukup jelas setiap kali terjadi Super El Nino. Karena itu, kami memperkirakan lonjakan besar dapat kembali terjadi,” katanya.
Ia menambahkan bahwa pemanasan global turut memperkuat dampak El Nino sehingga suhu udara menjadi semakin panas dari tahun ke tahun.
Fenomena El Nino sendiri merupakan bagian dari siklus iklim global yang ditandai dengan melemahnya angin pasat dan meningkatnya suhu permukaan laut di Samudra Pasifik. Kondisi tersebut dapat memicu berbagai cuaca ekstrem, mulai dari kekeringan berkepanjangan, gelombang panas, hingga perubahan pola hujan di berbagai negara.
MetMalaysia juga memperkirakan sebagian besar wilayah Malaysia akan mengalami penurunan curah hujan yang cukup signifikan selama periode tersebut. Dampak paling besar diprediksi dirasakan di kawasan utara Semenanjung Malaysia serta negara bagian Sabah dan Sarawak.
“Wilayah Sabah secara geografis lebih dekat dengan Samudra Pasifik sehingga biasanya menerima dampak yang lebih kuat ketika El Nino terjadi,” jelas Mohd Hisham.
Selain memengaruhi kondisi cuaca, gelombang panas berkepanjangan juga berpotensi memberikan dampak terhadap sektor pertanian, ketersediaan air, kesehatan masyarakat, serta industri perkebunan kelapa sawit yang menjadi salah satu penopang ekonomi Malaysia.
Pemerintah Malaysia saat ini terus memantau perkembangan fenomena iklim tersebut dan menyiapkan berbagai langkah mitigasi guna mengurangi risiko yang mungkin timbul ketika Super El Nino mencapai puncaknya dalam beberapa tahun mendatang.
Sumber: Kompas

Social Header