MIAMI || Banyak yang menganggap perebutan tempat ketiga Piala Dunia hanya pertandingan pelengkap sebelum partai final. Namun anggapan itu tidak sepenuhnya benar. Laga antara Prancis melawan Inggris pada Sabtu (19/7 WIB) justru menyimpan banyak cerita besar, mulai dari perburuan rekor individu, akhir sebuah era kepelatihan, hingga pertaruhan prestise sebagai tim terbaik ketiga di dunia.
Pertandingan di Hard Rock Stadium, Miami, Minggu (19/7/2026) dini hari pukul 04.00 WIB ini menjadi kesempatan terakhir bagi kedua negara untuk menutup turnamen dengan kepala tegak setelah sama-sama gagal melangkah ke final. Seperti diketahui, Prancis disingkirkan Spanyol dengan skor 0-2, sedangkan Inggris harus mengakui keunggulan Argentina 1-2 lewat comeback dramatis di semifinal.
Laga Terakhir Didier Deschamps
Sorotan utama tertuju kepada Didier Deschamps. Pelatih berusia 57 tahun itu akan menjalani pertandingan terakhirnya bersama Timnas Prancis setelah mengabdi sejak 2012.
Selama 14 tahun memimpin Les Bleus, Deschamps mempersembahkan sederet pencapaian bergengsi, termasuk gelar Piala Dunia 2018, UEFA Nations League 2021, final Piala Dunia 2022, serta tiga semifinal Piala Dunia secara beruntun pada 2018, 2022, dan 2026. Laga melawan Inggris menjadi penutup salah satu era tersukses dalam sejarah sepak bola Prancis.
Mbappe Berburu Rekor Dunia
Meski hanya memperebutkan posisi ketiga, pertandingan ini tetap sangat penting bagi Kylian Mbappe.
Kapten Prancis masih berpeluang memperbesar koleksi golnya di Piala Dunia 2026 sekaligus menjaga peluang meraih Sepatu Emas. Reuters melaporkan Mbappe juga semakin dekat dengan rekor pencetak gol terbanyak sepanjang sejarah Piala Dunia, sehingga setiap gol yang dicetak pada laga ini memiliki arti besar bagi kariernya.
Inggris Ingin Akhiri Penantian Panjang
Bagi Inggris, kemenangan akan menjadi pencapaian terbaik mereka sejak finis di posisi keempat pada Piala Dunia 2018.
Thomas Tuchel memang mengakui kondisi fisik dan mental para pemainnya menurun setelah kekalahan dramatis dari Argentina. Namun, finis di posisi ketiga tetap akan menjadi modal positif menuju Euro 2028 sekaligus memperbaiki citra tim setelah kembali gagal mencapai final Piala Dunia.
Perebutan Posisi Ketiga Tetap Bergengsi
Walaupun sering disebut sebagai "laga hiburan", pertandingan perebutan tempat ketiga tetap memiliki nilai kompetitif.
Tim pemenang akan membawa pulang medali perunggu, memperoleh hadiah uang yang lebih besar dibanding peringkat keempat, serta mendapatkan tambahan poin FIFA Ranking yang dapat memengaruhi posisi unggulan pada turnamen internasional berikutnya. Pandangan ini juga banyak disampaikan oleh komunitas sepak bola internasional dalam berbagai diskusi publik.
Tradisi yang Sudah Berusia Hampir Seabad
Pertandingan perebutan tempat ketiga telah menjadi bagian dari sejarah Piala Dunia sejak edisi 1934. Hanya dua edisi yang tidak memiliki laga perebutan peringkat ketiga, yakni Piala Dunia 1930 dan 1950 karena menggunakan format kompetisi berbeda. Sejak itu, FIFA selalu mempertahankan pertandingan tersebut sebagai bagian resmi dari turnamen.
Biasanya Banyak Gol
Statistik menunjukkan laga perebutan tempat ketiga sering berlangsung lebih terbuka dibanding final. Tekanan psikologis yang lebih ringan membuat kedua tim cenderung bermain menyerang. Dalam sejarah modern Piala Dunia, empat dari tujuh pertandingan perebutan tempat ketiga sejak 1994 menghasilkan sedikitnya empat gol. Fakta ini membuat duel Prancis kontra Inggris berpotensi menjadi tontonan yang menghibur.
Kesempatan Pemain Pelapis Bersinar
Thomas Tuchel maupun Didier Deschamps sama-sama memberi sinyal akan melakukan rotasi pemain. Beberapa pemain yang minim menit bermain selama turnamen berpeluang tampil sebagai starter. Kesempatan tersebut sangat penting karena pengalaman bermain di Piala Dunia bisa menjadi bekal berharga menuju kualifikasi dan turnamen besar berikutnya.
Perdebatan yang Tak Pernah Usai
Meski memiliki nilai sejarah, laga perebutan tempat ketiga tetap menuai pro dan kontra. Sebagian pelatih, pemain, hingga pengamat menilai pertandingan ini tidak lagi relevan karena kedua tim baru saja mengalami kekecewaan besar di semifinal. Namun, pihak lain menilai perebutan medali perunggu tetap penting demi menjaga tradisi, memberikan penghargaan bagi tim terbaik ketiga, serta menghadirkan satu pertandingan tambahan bagi jutaan penggemar sepak bola dunia.
Pada akhirnya, duel Prancis melawan Inggris bukan sekadar menentukan siapa yang finis di posisi ketiga. Pertandingan ini menjadi panggung terakhir Didier Deschamps, kesempatan emas Kylian Mbappe mengejar rekor dunia, ajang pembuktian bagi para pemain muda, sekaligus penutup yang layak bagi dua negara besar yang nyaris mencapai partai puncak Piala Dunia 2026.
Sumber: Reuters, Talksport

Social Header