ATLANTA || Aroma laga besar langsung terasa saat Argentina berhadapan dengan Mesir pada babak 16 besar Piala Dunia 2026 di Mercedes-Benz Stadium, Atlanta, Rabu (8/7/2026) malam pukul 23.00 WIB. Pertandingan ini bukan hanya menentukan satu tiket menuju perempat final, tetapi juga menghadirkan duel dua bintang sepak bola dunia, Lionel Messi dan Mohamed Salah, yang menjadi tumpuan utama masing-masing tim dalam perburuan gelar juara.
Argentina melangkah ke fase gugur dengan kepercayaan diri tinggi setelah tampil konsisten sepanjang penyisihan grup. Namun, langkah mereka sempat mendapat ujian serius ketika harus berjuang hingga babak tambahan waktu sebelum menaklukkan Tanjung Verde 3-2 pada babak 32 besar. Sementara itu, Mesir datang dengan semangat tinggi setelah menorehkan sejarah baru lewat keberhasilan menyingkirkan Australia melalui adu penalti, sekaligus membawa The Pharaohs melangkah lebih jauh dibandingkan pencapaian mereka di edisi-edisi sebelumnya.
Pelatih Argentina, Lionel Scaloni, menilai persaingan di Piala Dunia 2026 semakin sulit diprediksi. Menurutnya, tidak ada lagi tim yang bisa dianggap mudah karena setiap negara memiliki peluang yang sama untuk menciptakan kejutan.
"Tidak ada lagi favorit mutlak di turnamen ini. Semua pertandingan berlangsung ketat dan setiap lawan memiliki kualitas untuk menyulitkan," ujar Scaloni dalam konferensi pers sebelum pertandingan.
Scaloni menganggap kemenangan dramatis atas Tanjung Verde menjadi bukti bahwa karakter tim sama pentingnya dengan kualitas permainan.
"Ada saatnya kualitas saja tidak cukup. Dalam situasi seperti itu, mentalitas dan karakter pemain menjadi penentu," ujarnya.
Pelatih berusia 48 tahun itu juga memastikan kondisi Lionel Messi tetap prima meski harus bermain selama dua jam pada laga sebelumnya.
"Messi dalam kondisi baik. Dia tidak mengeluhkan apa pun setelah pertandingan terakhir dan siap tampil," ucapnya.
Scaloni juga memberikan perhatian khusus kepada Mohamed Salah, meski menegaskan ancaman Mesir tidak hanya berasal dari sang kapten.
"Semua orang mengenal kualitas Salah, tetapi Mesir bukan hanya tentang satu pemain. Mereka memiliki organisasi permainan yang solid dan layak dihormati," ungkapnya.
Di kubu Mesir, pelatih Hossam Hassan memastikan timnya tidak datang ke Atlanta hanya untuk menjadi pelengkap. Ia menegaskan anak asuhnya siap memberikan perlawanan maksimal kepada juara bertahan.
"Kami menghormati Argentina sebagai tim besar, tetapi kami datang untuk bersaing. Para pemain percaya kami mampu menghadapi siapa pun," ujarnya.
Legenda sepak bola Mesir itu menilai keberhasilan mencapai babak 16 besar telah meningkatkan rasa percaya diri skuadnya.
"Tim ini memiliki semangat luar biasa. Mereka bekerja keras untuk mencapai tahap ini dan ingin melangkah lebih jauh."
Sorotan utama pertandingan tentu mengarah kepada duel Lionel Messi dan Mohamed Salah. Kedua pemain sama-sama menjadi ikon sepak bola dunia sekaligus pemimpin di lapangan bagi negaranya masing-masing.
Messi masih menjadi pusat permainan Argentina melalui visi bermain, kreativitas, dan ketajamannya di depan gawang. Sebaliknya, Salah tetap menjadi ancaman terbesar Mesir berkat kecepatan, kemampuan menggiring bola, serta insting mencetak gol yang telah terbukti di level tertinggi.
Meski demikian, pertandingan diperkirakan tidak hanya ditentukan oleh dua pemain tersebut. Argentina memiliki deretan pemain berkualitas di setiap lini, sedangkan Mesir mengandalkan kolektivitas permainan, disiplin bertahan, dan efektivitas serangan balik.
Di atas kertas, Argentina memiliki peluang lebih besar untuk melangkah ke perempat final. Pengalaman sebagai juara bertahan, kedalaman skuad, serta kualitas individu menjadi modal penting bagi La Albiceleste.
Namun, Mesir telah membuktikan sepanjang turnamen bahwa mereka mampu bersaing dengan tim-tim kuat. Keberhasilan menyingkirkan Australia menjadi bukti bahwa tim besutan Hossam Hassan memiliki mental bertanding yang tinggi dan tidak mudah menyerah.
Sumber: Reuters, EFE, Times of India, The Guardian.

Social Header