![]() |
Dhaka – Seekor Kerbau Albino “Donald Trump” di Bangladesh Batal Disembelih Saat Idul Adha. Kerbau "Donald Trump” batal disembelih sebagai hewan kurban Idul Adha setelah pemerintah setempat turun tangan menyelamatkannya.
Kerbau tersebut sebelumnya telah dijual untuk kebutuhan kurban Idul Adha. Namun, perhatian besar masyarakat terhadap hewan unik itu membuat pemerintah Bangladesh mengambil keputusan mendadak untuk membatalkan penyembelihannya.
Seorang pejabat Kementerian Dalam Negeri Bangladesh mengatakan keputusan tersebut diambil demi alasan keamanan dan tingginya minat publik terhadap kerbau albino tersebut.
“Pada saat terakhir, diputuskan kerbau itu tidak jadi dikurbankan karena faktor keamanan dan ketertarikan masyarakat yang sangat besar,” ujar pejabat tersebut seperti dikutip dari Reuters.
Kerbau albino memang tergolong langka di Bangladesh karena mayoritas ternak di negara itu memiliki warna gelap. Penampilannya semakin mencuri perhatian karena memiliki rambut pirang di bagian kepala yang dianggap mirip gaya rambut Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.
Pemilik kerbau sebelumnya, Zia Uddin Mridha, mengaku nama “Trump” diberikan oleh adiknya karena melihat kemiripan tersebut.
“Adik saya memberi nama Trump karena rambutnya sangat unik,” kata Mridha.
Menteri Dalam Negeri Bangladesh, Salahuddin Ahmed, kemudian memerintahkan agar kerbau itu diamankan dan dipindahkan ke Kebun Binatang Nasional Bangladesh di Dhaka. Pembeli hewan kurban tersebut juga disebut telah menerima pengembalian dana.
Kurator kebun binatang, Atiqur Rahman, mengatakan pihaknya sudah menyiapkan kandang khusus untuk kerbau albino tersebut.
“Kami sudah menyiapkan kandang dan seorang perawat khusus untuk merawat kerbau itu,” ujarnya.
Rahman menambahkan, kerbau tersebut akan menjalani masa karantina selama dua minggu sebelum diperkenalkan kepada publik.
Sementara itu, Kepala Kepolisian Keraniganj Mohammad Ruhul Quddus menyebut dinas peternakan meminta agar hewan langka tersebut diamankan karena usianya masih muda dan masih dapat dipelihara dalam waktu lama.
“Dinas peternakan meminta kami mengambil kerbau itu karena termasuk hewan langka,” kata Quddus.
sumber: Kompas

Social Header